A.s.a

Download wallpaper 3840x2160 porthole, airplane window, window, flight,  plane 4k uhd 16:9 hd background

Antrian imigrasi dan klaim bagasi yang terasa berat dan lamban hampir saja membuatku meledak. Penerbangan dua puluh dua jam Los Angeles-Jakarta kali ini bukanlah sebuah perjalanan yang mudah. Meski begitu, aku terus bergegas menarik trolley menerobos kerumunan menuju halte. Bila sesuai jadwal, bus malam terakhir akan tiba hanya dalam beberapa menit lagi saja. Deru hujan berpacu bersama resahku menunggu, sementara tenggorokan tercekat mulai terasa kering. Sesekali aku menepuk jaket yang basah dan merapihkan tali sepatu yang terlepas. Sepuluh menit kemudian, bus melaju sesaat setelah aku melompat masuk ke dalamnya.

Lampu kota berpendar pecah dari balik jendela. Aku memandang jauh pada siluet cahaya gedung-gedung tinggi yang mungkin tidak akan pernah padam, pejuang kehidupan menjaminkan apapun untuk melukis cerita klasik di dalam sana, meski hitam dan putih, walau ragu dan bias adalah sisi yang justru akan terabadikan selamanya. Dan aku ingat wajah-wajah lelah yang juga malam ini merasa harus pulang saat antrian panjang tadi, aku mencoba meyakini bahwa aku tak sendiri. Sementara di luar sana guyuran hujan menemani malam yang merangkak kian larut.

“Maaf” lirih suaranya. Duniaku berhenti. Dan aku semakin membeku ketika sambungan telefon jarak jauh itu ditutup, mati. Hari-hari berikutnya aku menemukan diriku bukanlah diriku. Dan aku, lagi-lagi, tak punya pilihan untuk kembali utuh menjadi, diriku. Perlukah?

Aku terbangun. Cuplikan itu terbayang lagi. Aku memperbaiki posisi duduk, lima jam pulas tertidur cukup memulihkan tenaga yang terkuras habis. Arloji menunjukkan pukul empat petang waktu California, sehari-harinya pada waktu ini aku sedang menyeduh teh chamomile di antara tumpukan berkas yang harus aku selesaikan malam itu juga. Sekilas aku melihat jam digital berukuran sedang di samping kaca spion dan mengubah pengaturan waktu Indonesia pada arlojiku. Lamat-lamat, masih dalam kantuk yang menusuk, desiran lega yang sulit kuungkapkan merengkuh hati ketika menyadari sesaat lagi akan tiba pada tujuan.

Mentari pagi kuning muda dengan semburat hangat yang khas menyambut langkah-langkah kakiku. Sekonyong-konyong kuhirup udaranya memenuhi paru-paru, warna dan bentuk desa kecil ini masih setia pada kenangan masa lalu yang membekas, yang terhadap apapun tidak dapat tergantikan. Kicau burung bersahutan, ada damai yang tak terselami. Rumah berwarna putih beratap landai itu seperti senyum malu-malu ketika petikan pagar terdengar saat aku membukanya. Dedaunan lusuh yang menutupi sebagian teras rumah berkisah tentang tuan rumah yang tak pernah pulang. Pelan aku melangkah masuk, kehangatan dan perasaan bersalah menghantam ulu hati. Aku menyerah dan tidak dapat menipu diri sendiri saat akhirnya sesuatu yang kubendung sesudah malam tragis itu runtuh. Tersungkur aku menangis dalam hening dan khusuk, aku pulang, Bu.. 

Hari ini sembilan tahun yang lalu. Hari dimana cuplikan episode kelam yang selalu ingin kesembunyikan menjadi momentum. Di sebuah sore yang sibuk, Antoni, dokter spesialis jantung yang menangani Ibu menggunakan cara sedemikian rupa menyampaikan kabar bahwa Ibu tidak tertolong dalam serangan jantung tiba-tiba.

“Maaf” lirih suaranya dalam intonasi yang berat dan serak. Dari balik telefon jelas kudengar penggalan-penggalan nafasnya, ada sesuatu yang ingin diucap namun tak terucap, dan tanpa aba-aba sambungan itu diputus. Keluarga mengadakan prosesi pemakaman Ibu tanpa kehadiranku, dan Antoni yang tak sekalipun berkabar lagi setelah sore itu membuatku semakin mati rasa. Aku tak pernah pulang, aku memilih tenggelam meratap dalam kesendirian di tengah hiruk pikuk California. Setahun kemudian keluarga mengabarkan bahwa Antoni menikahi perempuan yang dijodohkan untuknya. Ya, pada kenyataannya lelaki berparas teduh itu pernah menjadi tunanganku sejak di akhir masa kuliah, yang entah karena alasan apa memutuskan menyetujui perjodohan lain tanpa sempat mengakhiri apapun yang aku rasa perlu diselesaikan.

Aku tak memiliki kuasa menunda peristiwa duka mana yang boleh menghampiriku terlebih dahulu, dan dalam hal ini mungkin aku tak seberuntung kebanyakan orang. Sesaat sepeninggal Ibu dan Antoni, aku gamang dan tak berdaya memaksa diri kembali utuh menjadi diriku yang sepenuhnya. Aku rindu Ibu, rasanya tak ingin apapun lagi kecuali kembali bersamanya. Seandainya boleh aku membuka pintu surga, aku akan menariknya dalam pelukan, sambil kuceritakan kepergiannya yang sungguh mendadak membuatku luluh lantak. Ah, hidup memang semisteri itu.  

Menyadari sombongnya waktu dan jengah pada urusan dinginnya hati, aku meyakinkan diri keluar dari ruang hampa yang menahun. Kutanggalkan takut dan tak ingin lari lagi. Aku tiba dengan sekeranjang bunga warna warni saat awan kelabu menggantung di langit siang. Pusara Ibu tampak berwibawa menghadap Barat, di depannya terbentang padang sabana yang tenang. Aku tak bergeming, terhanyut menikmati sepi dan membiarkan angin yang berhembus membelai setiap lapisan kulitku. Pikirku yang kacau dan segala rasa bersalah melayang-layang dalam kebisuan. Pencarianku terhenti. Mungkin sepertinya kematian tidak perlu dibesar-besarkan. Merasa kehilanganlah yang membuatnya bagai momok yang tak berujung, dan meski lamban tak menjanjikan kurelakan pergantian purnama yang akan mengobati.  Kutaburi bunga dengan seribu harap, tubuhku yang bergetar bersama isakan pilu meluruhkan kekosongan.

Perjalanan jauh yang singkat ini aku tutup dengan perjumpaan keluarga besar. Aku menitipkan rumah dan pusara Ibu. Bersama mereka yang selalu hadir, aku menyampaikan maaf dan menerima nasehat, tawa dan tangis yang bergantian dalam pelukan menyempurnakan roda hidup yang  akan terus berputar. 

Tidak seperti sebelumnya, kali ini antrian imigrasi kulalui dengan hati yang penuh. Segalanya terasa cepat dan ringan. Penerbangan pulang dua puluh dua jam tidak akan lagi menjadi beban. Dari balik jendela pesawat yang lepas landas, pandangku tak lekang pada hamparan cahaya kota di pekatnya malam, entah kapan aku kembali lagi, namun yang kucari tak lagi disitu, ia telah abadi bersama asaku. Samar-samar dari balik kaca ada semburat wajah yang membayang, anggun aku melihat Ibu yang tersenyum.

Comments

Popular posts from this blog

a little star

jump!

if i stay,